Translate

Sabtu, 26 Maret 2016

SEJARAH KEKAISARAN JEPANG DAN DINAMIKA PEMERINTAHANNYA


Pendahuluan

Jepang merupakan sebuah negara yang terletak di Asia Timur, berdekatan langsungdengan Samudera Pasifik dan bertetangga dengan Korea, China, dan Rusia. Negara inimerupakan negara kepulauan yang terdiri dari 6.852 pulau, pulau-pulau utamanya yaitu Hokkaido, Honshu, Shikoku, dan Kyushu. Pulau Honshu merupakan pulau terbesar diantarapulau-pulau lainnya dan menjadi pulau terpadat diantara pulau-pulau lainnya di Jepang.
Dipulau Honshu ini terdapat ibu kota Jepang yang terletak di Tokyo atau sering juga disebutdengan Tokyo Raya, sebuah prefektur yang merupakan daerah terpadat dari negara ini. Tokyo menjadi daerah yang penting di Jepang, karena merupakan daerah metropolitanterbesar di dunia berdasarkan kepadatannya.
Tokyo juga merupakan prefektur dimanaterdapat distrik Chiyoda, yaitu kota dimana terdapat istana kekaisaran Jepang. Tokyo adalahpusat politik, ekonomi, budaya dan akademis di Jepang serta tempat tinggal kaisar Jepangdan kursi pemerintahan negara, dan sekaligus merupakan pusat bisnis dan finansial utamauntuk seluruh Asia Timur.Negara Jepang ini adalah negara dengan bentuk pemerintahan Monarki Konstitusional, dengan seorang kaisar sebagai kepala negara. Sedangkan kepalapemerintahan tertinggi dipegang oleh Perdana Menteri dan anggota Parlemen. Jadi, kaisarhanyalah sebagai simbol kepala negara seremonial. Kedudukan Kaisar Jepang diaturdalam konstitusi sebagai "simbol negara dan pemersatu rakyat.”
Berdasarkan mitologi tradisional Jepang, negara ini didirikan oleh Kaisar Jimmupada abad ke-7 SM. Kaisar Jimmu inilah yang memulai monarki di Jepang dan masihberlangsung hingga masa sekarang. Menurut Nihon Shoki dan Kojiki, yaitu buku sejarah Jepang yang berasal dari zaman Nara dan Wado, kaisar pertama yang bernama Jimmu inilah yang memerintahkan suatu ekspedisi dari Kyushu ke arah timur. Demikian pula dengan Jimmu, “kaisar pertama yang legendaris”, melakukan penghormatan ke timur dan kepada Dewi Matahari dengan mengawali ekspedisinya dari Hyuga (artinya: menghadap kematahari) di Kyushu bagian timur.
Masyarakat Jepang percaya bahwa kaisar adalah keturunan langsung dari dewa, maka kaisar Jimmu dianggap sebagai keturunan dari Dewa Matahari atau Amateras.
Meskipun begitu, sepanjang sejarahnya, kebanyakan kekuatan sebenarnya berada ditangan anggota-anggota istana, shogun, pihak militer, dan memasuki zaman modern, ditangan perdana menteri. Menurut Konstitusi Jepang tahun 1947, Jepang adalah negara monarki konstitusional di bawah pimpinan Kaisar Jepang dan Parlemen Jepang.


    Latar Belakang

Dalam makalah ini membahas tentang kekaisaran Jepang, maka tentunya yang akan dibahas adalah sistem pemerintahan negara Jepang. Dan bentuk pemerintahan negara iniadalah sistem monarki konstitusional, dimana kaisar sebagai kepala negara dan juga simbolseremonial. Monarki, berasal dari bahasa Yunani yaitu “monos” yang berarti satu, dan “archein” yang berarti pemerintah. Monarki merupakan sejenis pemerintahan yang dipimpin olehseorang penguasa monarki. Monarki atau sistem pemerintahan kerajaan adalah sistem tertua di dunia.
Namun pemerintahan Jepang sekarang ini tidak sepenuhnya dipegang oleh kaisar, karena kaisar hanya sebagai kepala negara, bukan kepala pemerintahan. Maka bentuk pemerintahan Jepang adalah monarki konstitusional.Selain itu, Kekaisaran Jepang juga dipengaruhi oleh sistem pemerintahanfundamentalisme keagaamaan. Fundamentalisme keagamaan adalah paham politik yangmenjadikan agama sebagai ideologi berbangsa dan bernegara. Paham ini menjadikan agamasebagai basis ideologinya.
Dapat kita lihat bahwa pada masa lampau, Jepang menganggap Kaisar Jimmu sebagai keturunan langsung dari Amaterasu. Dan selama beberapa abad Jepangmenganggap kaisar mereka adalah dewa. Maka dari itu dilihat disini bahwa Jepang jugamenganut sistem pemerintahan fundamentalisme keagamaan.


      Pembahasan

                 Sejarah dan perkembangan Kekaisaran Jepang dibagi kedalam 3 tiga babak, yaitu zamanprasejarah, zaman monarki, dan zaman feodal. Berikut adalah pembahasan dari masing-masing zaman.


I.                    Kekaisaran Jepang Zaman Prasejarah
                 Sistem hukum Jepang saat periode kuno dicirikan dengan hubungannya yang sangaterat dengan agama. Bagian pertama dalam periode ini, yaitu dimulai dari abad ke-2 atau ke-3sebelum Masehi sampai kira-kira abad kedua Masehi yang bertepatan waktunya dengan era tumbuh suburnya kebudayaan Yayoi.
                 Terlihat bahwa agama primitif menguasai seluruh segi kemasyarakatan selama era ini. Era pertengahan periode kuno, antara abad ke-3dan ke-4, penguasa keagamaan merupakan dasar kekuasaan politik yang digunakan parakaisar dalam menyatukan berbagai kelompok kekeluargaan yang otonomi. Pada akhir bagianperiode kuno yaitu antara abad ke-5 dan ke-6, secara perlahan-lahan agama mulai kehilangankekuasaannya dalam politik dan masyarakat, yang kemudian digantikan oleh penguasasekular (duniawi) yang menjadi dasar kekuasaan politik.
                 Menurut Nihon Shoki dan Kojiki, yang disusun dalam abad ke-8, kaisar pertamabernama Jimmu yang mengirimkan suatu ekspedisi dari Kyushu ke arah timur. Jimmu,“kaisar pertama” yang legendaris kata orang, melakukan penghormatan ke timur dan kepada Dewi Matahari dengan mengawali ekspedisinya dari Hyuga (artinya: menghadap kematahari) di Kyushu bagian timur. Tidak diragukan lagi, bahwa ekspedisi tersebut memang pernah terjadi, namun bukandipimpin oleh Jimmu, melainkan oleh Sujin. Sebenarnya Sujin adalah kaisar Jepang yangpertama, seperti Jimmu, jika kita membaca di dalam kronik-kronik , ia disebut sebagai “kaisar  pertama yang memerintah negara” (hatsukuni-shirasu-sumeramikoto).
 Teori ini dibenarkan oleh dugaan tentang kematian Sujin (318 M) dan ditemukannya sebuah istana di daerahYamato milik Ratu Himiko (dekat Gunung Miwa di daerah propinsi Nara).
                     Bukti lainnya, bahwa Sujin mengirimkan sebuah ekspedisi ke arah timur dari Kyushusebelah utara dapat disimpulkan dari kenyataan bahwa ekspedisi-ekspedisi bersenjata keKyushu sebelah utara yang dipimpin oleh kaisar ke-12 dan ke-14 (Keiko dan Chuai) samasekali mengabaikan (tidak menjamah) bagian utara pulau itu. Karena bagian utara telahdikuasai oleh Sujin sebelum ia berangkat menuju ke timur, maka perhatian kedua kaisar yangberkuasa dapat dipusatkan khusus pada sebelah tenggara pulau itu.
                     Berikutnya para Kumaso dari Kyushu bagian selatan diserang dengan ekspedisi-ekspedisi kaisar ke-12, yaitu Kaisar Keiko, tetapi dengan gigih mereka menentang pasukan-pasukan kekaisaran. Serangan lain dilakukan oleh kaisar ke-14, yaitu Chuai, tetapi pasukanitu dibelokkan untuk menyerang Korea bagian Selatan dari Kyushu bagian utara sesuaidengan sabda dari dewa yang diteruskan kepada istri Chuai, yaitu Kaisar wanita Jingu Kogo.
                     Menurut kronik tercatat bahwa kaisar wanita tersebutlah yang memimpin bala tentara yangmenyerbu itu, kemudian timbulah keraguan mengenai hal tersebut, apakah ia betul-betulmanusia atau hanyalah legenda. Tetapi yang pasti, bahwa Jepang memang menyerbu keKorea dalam beberapa peristiwa sekitar tahun 400 Masehi. Kenyataan itu tersusun padasebuah prasasti di sebuah monumen untuk mengenang Kerajaan Koguryo (kerajaan kuno diKorea), dan monumen tersebut masih tegak berdiri di Manchuria sebelah selatan.

II. Kekaisaran Jepang Zaman Monarki.

A.      Periode Yamato (250-552 M)
Periode Yamato atau sering juga disebut sebagai Periode Kofun, sudah ada sekitarabad ke-3 atau ke-4 dan berada di daerah Yamato (sekarang: Propinsi Nara). Menurutlegenda, Yamato diperintah oleh seorang kaisar keturunan Dewi Matahari (Ninigi no Mikoto).
            Cicitnya yang bernama Iwarehiko no Mikoto maju dari Kyushu ke arah timur dan mendirikankerajaan di Yamato. Pemerintahan ini bergerak menuju Semenanjung Korea dan mengirimkan utusan resmi ke Cina. Pada abad ke-5 kekuasaannya pun semakin meluas sehingga akhirnya berhasil menguasai sebagian besar wilayah Jepang.
            Mulai abad ke-5 dan ke-6, pemerintahan Yamato menyusun sistem politik pusat, sertamendirikan negara yang disebut Yamato, dengan penguasanya disebut Okami(raja agung) ,dan kemudian disebut Tenno (kaisar). Kubur kuno (kofun) penguasa pada masa itu banyak tertinggal dimana-mana, dan kuburan kuno terbesar di Jepang terdapat di kota Sakai (sekarang: Osaka) yang berasal dari abad ke-5. Kuburan ini merupakan kuburan dari Kaisar Nintoku (Nintokuryokofun), kaisar ke-16 dari Kekaisaran Jepang.Pada abad ke-5 sampai ke-6, banyak orang yang menyeberang dari SemenanjungKorea dan Cina yang kemudian menetap di Jepang. Pada masa itu pula, masuklah ajarankonfusianisme beserta bukunya, ajaran Budha beserta kitab suci dan patungnya dari Cina danKorea ke Jepang.
Semua itu menjadi dasar pengetahuan, pikiran, ajaran agama, dan seniorang Jepang. Posisi kaisar yang berperan sebagai pemegang kekuasaan digantikan oleh klan Soga pada tahun 593. Pada masa ini pemerintahan dibagi berdasarkan klan (Shisei Seido) ,dan kaisar hanya dijadikan sebagai simbol negara.Kemudian Pangeran Shotoku Taishi berhasil menekan klan Soga. Pada saat itulah pewaris tahta yang bernama Nakanooeno Oji (Pangeran Nakanooe) yang kemudian dikenal dengan Kaisar Tenji dan Nakatomino Kamatori yang dikenal sebagai Fujiwarano Kamatari, telah berhasil menjatuhkan klan Soga pada tahun Taika (645), dan memulai pemerintahan baru. Peristiwa ini disebut Pembaharuan Taika. Taika adalah nama tahun yang untuk pertamakalinya ditetapkan di Jepang. Pembaharuan Taika, mencontoh sistem yang dipakai Cina(dinasti Sung), yaitu menghapus sistem Gozoku dan membentuk sistem pemerintahan yang berpusat pada Tenno (Kaisar) yang disebut Kochi-Komin

B.      Periode Asuka Hakuho (552-710)

                 Zaman ini disebut dengan Zaman Asuka Hakuho karena merupakan zaman perkembangan paham Konfussianisme di Jepang. Pada zaman ini pula terjadi pembangunanbesar-besaran kuil Budha (645-710) yang berpusat di daerah Ikaruga dan Asuka. Pada zamanini Budha dijadikan sebagai agama nasional di Jepang.
                 Disebabkan kekaguman dan ketertarikan Pangeran Shotoku terhadap Dinasti Sui diCina, maka beliau memerintahkan untuk membangun kuil-kuil dan patung-patung Budha diHooryuji dan Chuguji di Nara, Koryuji di Kyoto, Hokoji di Asuka dan Shitennoji di Osaka.

C.      Periode Nara (710-794 M)

                 Dengan meniru ibukota dari dinasti Tang di Cina yang bernama Choan, istanamembuat ibukota yang megah yang disebut Heijyo di Nara, pada tahun 710M. Ibukota Naradibagi secara vertikal dan horizontal dengan jalan yang besar. Disinilah berdiri istana besar,rumah kaum bangsawan, dan kuil yang besar.
                  Zaman Nara berlangsung selama 70 tahun. Dizaman ini, dilaksanakan pemerintahan oleh Kaisar berdasarkan Undang-undang Taiho (Taiho Ritsuryo) yang disebut pemerintahan Ritsuryo (Ritsuryoseiji) dengan berkembangya ibukota. Pada masa ini, keadaan kaum bangsawan dapat menikmati kehidupan denganmenyenangkan, berbeda dengan kaum petani.
                 Masyarakat menggunakan sistem barter sehari-harinya, kemudian para petani mendapatkan perlakuan tidak layak, miskin, dan menderitasaat itu, karena adanya penetapan pajak yang tinggi, adanya wajib militer, dan kerja paksayang sangat berat. Orang-orang yang melarikan diri setelah membuang tanahnya, yangberasal dari kalangan petani pun bertambah. Karena adanya kondisi seperti itu, istanakemudian menetapkan peraturan tentang pemberian tanah kepada orang yang membukalahhan tersebut, disebut dengan kondeneinenshizaiho.
                 Setelah peraturan tersebut ditetapkan,banyak terjadi persaingan antara kaum bangsawan, kuil, dan keluarga yang berkuasa untuk membuka lahan dengan skala besar, hal ini kemudian menyebabkan makin bertambahnyatanah milik pribadi.Tanah pribadi yang dimiliki dengan cara sepeerti itu, setelah makin lama makinmeluas, tanah pribadi ini kemudian disebut shoen, sistem kochi-komin yang menjadi dasar dari pemerintahan Ritsuryo pun runtuh.
                 Akibatnya, pemerintah istana pun menjadi kacau,bangsawan dan pendeta mempunyai tanah yang luas menjadi berjasa di pemerintahan.Pada pertengahan zaman ini, pertanian terus memburuk, banyak orang yangmeninggal karena wabah penyakit, dan terjadi pertentangan antara kaum pendeta dan kaumbangsawan. Kaisar Shomu yang beragama Budha, memohon kepada kekuatan Budha untuk melindungi negara serta menenangkan rakyat yang sedang resah. Untuk itulah kaisar membangun Todaiji (Kuil Todaiji) dan sebagai patung utamanya ia membuat patung besar Budha dari perunggu berlapis emas yang tingginya mencapai 16 meter di dalam kuil tersebut.
                 Sejak abad ke-7 sampai dengan ke-9, istana juga telah belasan kali mengirimkanutusan resminya, untuk menyerap serta memasukan kebudayaan yang telah maju dari dinastiTang. Kebudayaan pada zaman Nara sangatlah dipengaruhi oleh kebudayaan dinasti Tang(Cina) dan berhubungan erat dengan agama Budha. Kebudayaan zaman itu disebut juga dengan Tenpyo Bunka (Kebudayaan Tenpyo) karena kebudayaan mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan Kaisar Shomu (tahun 729– 749) yang disebut Tenpyonenkan.

D.     Periode Heian (794-1185 M)

            Tahun 794, Kaisar Kanmu memindahkan ibukota ke Heian (Kyoto) untuk membangun kembali pemerintahan Ritsuryo. Ibukota baru ini diberi nama Heiankyo denganharapan agar dunia yang damai dapat berlangsung terus. Masa sejak pemberian nama hingga400 tahun sesudahnya disebut Heian Jidai (zaman Heian). Istana pemerintahan ada di Kyotoselama kira-kira 1100 tahun, yaitu sejak saat itu sampai berakhirnya zaman Edo.
Pada zaman Heian ini tanah pribadi (shoen) semakin bertambah. Terutama Fujiwara-Shi (Keluarga Fujiwara) yang mendapatkan posisi yang menguntungkan berkat pembaharuanTaika, memiliki tanah pribadi yang sagat banyak, dan menjadi kaum penguasa (kizoku) yang paling berkuasa. Fujiwara-Shi menikahkan putrinya dengan Tenno, menjadikan putramahkota dari pernikahan tersebut sebagai kaisar, dan menjadikan dirinya sendiri sebagai Sessho (patih atau orang yang berkuasa) pada saat putra mahkota (oji) masih kecil, kemudianmenjalankan pemerintahan sebagai Kanpaku (mangkubumi) pada saat putra mahkota telahdewasa, sistem pemerintahan ini disebut Sesho Kanpaku.
                 Keluarga Fujiwara-Shi mengalamimasa kejayaan pada awal abad ke-11.Memasuki jaman Heian, kaum bangsawan menikmati kebudayaan ala Cina, tetapimemasuki akhir abad ke-9, karena dinasti Tang mulai goyah, atas usul dari Sugawara no Michizane, pengiriman utusan resmi ke Cina pun dihentikan. Karena pengaruh dari daratanCina semakin berkurang, maka munculah kebudayaan baru khas Jepang, Kokufubungaku.

E.      Kaisar Akihito (1989-sekarang)

                 Perang Dunia II telah membawa kehancuran Jepang dan akhirnya pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Selanjutnya pada tanggal 2September 1945 Piagam penyerahan Jepang dengan resmi ditandatangani oleh wakilpemerintah Jepang dan Sekutu (Jenderal Douglas Mac. Arthur sebagai pimpinan SupremeCommander for the Allied Powers (SCAP). Sejak inilah secara resmi juga dimulailah masapendudukan Jepang oleh Sekutu.
                  Berdasarkan Konstitusi baru yang diumumkan secara resmi pada tanggal 3 November1946 dan mulai berlaku tanggal 3 Mei 1947 dinyatakan bahwa Kaisar bagi masyarakat Jepang adalah Lambang Negara dan Kesatuan rakyat. Di dalam kehidupan sehari-hari, kaisar tidak mempunyai kekuasaan yang ada kaitannya dengan pemerintahan. Menurut Konstitusibaru tugas Kaisar ialah:
1) Melantik Perdana Menteri yang telah ditunjuk (dipilih) oleh DIET (Parlemen Jepang).
2) Melantik Ketua Mahkamah Agung.
3) Mengumumkan Undang-Undang dan perjanjian-perjanjian yang dibuat degan negaralain.
4) Memanggil DIET untuk bersidang dan menganugerahkan penghargaan atas saran danpersetujuan Kabinet. Kaisar Hirohito meninggal pada tanggal 7 Januari 1989, kemudian digantikan olehputera mahkotanya sebagai kaisar baru yakni Akihito.
                 Dengan demikian terjadi pergantianera, yakni dari era Showa menjadi era Heisei yang berarti era perdamaian. Oleh karena itu tidak heran, apabila 3 jam setelah kaisar Hirohito meninggal, maka diadakan acara kenjitoshokei Nogi yakni “upacara penyerahan tahta suci pada Kaisar baru Akihito, tanggal 7 Januari1989. Sebab 3 harta suci harus diserahkan kepada penggantinya tanpa adanya waktu putus.Dengan demikian sejak 7 Januari 1989, Jepang memasuki masa pemerintahan kaisar Akihitodengan nama era Heisei.
                 Namun pelantikan Kaisar Akihito sebagai kaisar Jepang ke-125 barudilaksanakan pada tanggal 12 November 1990. Dalam acara penobatan kaisar Akihito, hadir37 Presiden, 11 Perdana Menteri dan 20 Raja dari seluruh dunia.


  Kesimpulan

            Dapat kita lihat dari masa ke masa bahwa peranan kaisar dalam pemerintahan diJepang terus berubah-ubah, sesuai dengan kekuasaan yang sedang berkuasa pada masing-masing zaman tersebut. Peranan kaisar yang awal mulanya adalah sebagai kepalapemerintahan dapat digeser oleh suatu klan dan dirubah kedaulatannya oleh klan tersebutsehingga kaisar atau Tenno hanya sebagai simbol saja.Bahkan pada masa lampau kaisar sempat diagung-agungkan dan dikatakan sebagaiketurunan langsung dari Dewa Matahari atau Amaterasu, yang memang merupakan dewa darikepercayaan Jepang kuno.
            Hal ini terjadi dikarenakan adanya kepercayaan kuno yang saat itudianut oleh masyarakat Jepang, dimana sebenarnya kemungkinan besar pemuka darikepercayaan tersebut atau bangsawan yang berkuasa pada zaman itulah yang mengungkapkanhal ini.
            Namun seiring berjalannya waktu, kaisar tidak lagi dianggap sebagai keturunan Dewa, bahkan sekarang ini kaisar hanya merupakan simbol negara saja. Padahal awalnya kaisar diagung-agungkan dan dijadikan sebagai kepala pemerintahan kerajaan, namunsekarang seperti yang tertlis dalam Konstitusi tugas kaisar hanyalah untuk melantik Perdana Menteri dan Mahkamah Agung, serta mengumumkan Undang-undang dan Perjanjian-perjanjian baru yang dilakukan Jepang dengan negara lain.Terjadi pula pergeseran sistem pemerintahan yang tadinya berupa fundamentalisme keagamaan dan monarki menjadi monarki konstitusional yang utuh.
            Fundamentalisme keagamaan inilah yang tadinya menjadi dasar bagaimana masyarakat Jepang dulunya berpendapat bahwa kaisar mereka adalah keturunan dari Dewa. Karena kentalnya budayakepercayaan mereka sehingga dapat muncul sistem seperti ini. Namun sekarang sistem itusudah bergeser menjadi sistem monarki konstitusional, dimana kepala pemerintahan dipegangoleh Perdana Menteri, dan Tenno hanyalah sebagai kepala negara dan simbol negara atau seremonial.


Daftar Pustaka

Beasley, W.G., 2003.Pengalaman Jepang, Sejarah Singkat Jepang. Jakarta: YayasanObor Indonesia.
Suradjaja, I Ketut. 1984. Pergerakan Demokrasi Jepang. PT. Karya Uni Press.
PW, Martinah. 1973. Sejarah Jepang, Ringkasan dari The History of Japan. karyaK.S. Latourette. FKIS-IKIP Yogyakarta.
Facts and Figures of Japan 2007 01: Land ".Foreign Press Center Japan.
http://www.facts-about-japan.com/ancient-japan.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Jepang 

Peran Kita dan Hidup Bangsa


Dalam setiap dinamika waktu terdapat pula dinamika kehidupan yang di dalamnya terdapat kita sebagai subjek atau objek dari setiap pergerakan waktu. Waktu merupakan hal yang melekat dalam kehidupan setiap manusia, Di mana banyak pepatah atau perkataan orang bijak menegaskan tentang waktu. Jika kita simpulkan dari semua itu, maka kitalah yang harus berusaha menjadi subjek, dan jangan sampai kita menjadi objek daripada waktu. Segala apa yang kita dapatkan dalam kehidupan kita dari masa ke masa merupakan cerminan dari segala apa yang kita lakukan, yang kita perankan dalam perjalanan kehidupan kita.
Tahukah kita , sejarah telah bercerita bahwa hanya orang yang selalu berusaha menjadi subjeklah yang berhak hidup dalam setiap masanya ? tak memandang apakah ia subjek yang disenangi atau ditakuti, jahat atau baik, disukai atau dibenci. Sebaliknya, Orang yang hanya menjadi objek dalam perjalanan hidupnya bisa kita katakan sebagai orang mati. Maksudnya , jika kita semua meyakini dan berusaha membuktikan diri kita sebagai manusia yang berpotensi dan berhak memilki kekuasaan maka kita sudah memenuhi syarat untuk menerima status sebagai manusia yang hidup dalam arti sebenarnya. Sebaliknya, seseorang bisa dinamakan orang mati jika ia tidak meyakini serta mematikan setiap potensi dirinya dengan segudang alasan, sehingga pada akhirnya orang seperti inilah yang tidak punya otoritas, tidak punya kekuasaan apapun, termasuk dirinya sendiri pun dikuasai orang lain. Begitu pun nasib bangsa ini yang telah mematikan segala potensinya , akibatnya bangsa ini berhasil dieksploitasi dan dikuasai bangsa lain meski denagan prosedur yang terselubung. Jika negeri ini hampir mati, maka dapat dipastikan negeri ini disinggahi orang-orang yang yang hampir mati pula.
Oleh karena itu, sudah seharusnya kita tidak mematikan diri kita, karena hal itu sama saja dengan tidak mensyukuri apa yang kita miliki. Coba kita yakini bahwa kita memiliki potensi yang luar biasa untuk meraih apa yang kita inginkan sekalipun potensi itu belum terlihat keberadaannya. Namun kita terus berusaha menggali sembari meyakini keberadaan potensi tersebut, kemungkinan besar kita menemukannya atau setidaknya kita telah berhasil meningkatkan kemampuan-kemampuan lain yang tadinya sangat minim. Apabila kita memanfaatkan sekecil apapun yang kita miliki, maka apa yang kita miliki itu bisa berubah menjadi manfaat yang sangat besar. Jangan sampai kita menjadi orang mati , jika nasib bangsa kita hari ini hampir mati , maka kita lah sebagai orang yang hidup yang akan membangunkanya.
 Kali ini mari kita bicara tentang nasib bangsa ini, kian hari kian terpuruk. Jika tadi kita bicara masih dalam lingkup individu maka kita tahu bahwa satu individu merupakan anggota kelompok masyarakat . Suatu masyarakat terdiri dari individu-individu, setiap individu berkembang menurut kebudayaan turun-temurun atau tradisi. Bukan baru-baru ini kita bicara tentang para pemimpin tetapi sudah sekian lama bangsa ini membicarakannya sembari mencari solusinya. Kalau kita bicara tentang para pemimpin erat kaitannya dengan ulah mereka yang membudaya yaitu korupsi.
Sejatinya korupsi sudah dikenal dan diamalkan oleh para petinggi sejak zaman dahulu kala, sebut saja penjarah pertama sumber daya bangsa ini, VOC ( Vereegnide Oost Indische Compagnie) . VOC mengakhiri hayatnya disebabkan korupsi yang menjamur di dalamnya, akhirnya mereka bangkrut dan mengakhiri hayatnya. Tak lama kemudian datanglah pemerintahan Hindia Belanda , rupanya tak beda jauh nasibnya . Sarang koruptor ternyata masih tertinggal dan akut menjelma menjadi sebuah budaya yang hadir menyerang jiwa petinggi bangsa ini, hingga kini tiada terganti. Basuhan upaya tetap saja tak berhasil, dari zaman H.W. Daendels sampai zaman SBY.
Melihat dinamika korupsi, dari zaman orde lama, orde baru ,sampai reformasi. Orde lama berhak mendapat pujian , selain dari nasib pertama merdekanya bangsa ini dari tangan penjajah, juga ternyata korupsi di zaman orde lama tidak separah orde berikutnya yakni orde baru. Orde baru terlalu cerdik menutup aibnya, selama tiga puluhan tahun lamanya ia berhasil tampil sempurna di hadapan publik. Dengan membredel media, pers dibungkam, para reformis ditangkap  kian akut budaya korupsi yang diderita di ranah pemerintah masa itu. Bukan berarti habis gelap timbul terang masa Orde Baru berakhir, ternyata reformasi bisa lebih gila kasus korupsinya. Para reformis bisa mengaku anti korupsi sebelum duduk dalam ranah pemerintahan, tetapi apa yang terjadi setelah mereka duduk di ranah pemerintahan, mereka sama saja menjilat lidah sendiri.
Hari ini kita sangat dibuat bingung oleh berbagai peristiwa, kita bingung akan mengandalkan siapa untuk hari esok. Setiap pihak, partai, kaum, suku, agama,dan kita, mungkin punya cara masing-masing untuk mengobati luka ibu pertiwi. Entah ada setan apa selalu mengganggu niat baik kita untuk memperbaiki nasib ibu pertiwi yang telah terluka parah. Penyakit akut apa kiranya yang telah tega merusak organ-organ penggerak kemajuan bangsa ini. Kiranya akan ke dokter spesialis apa kita harus membawanya berobat, harus rawat jalan atau mungkin dioperasi?. Sekali lagi Kita harus mengandalkan siapa untuk esok hari?. Jawabannnya ada pada diri kita.Kita generasi penerus harus punya terobosan inspiratif dan inovatif atau sebagai individu-individu yang mengaku masih hidup sebagai subjek bukan objek, memainkan bukan dipermainkan.
Kuncinya, semua kembali pada diri kita. Bangsa kita adalah diri kita. Jika kita hanya mampu berkomentar tentang ini dan tentang itu tanpa tindakan pembuktian akan solusi yang kita tawarkan. Maka sampai kapan kita menunggu sang ratu adil datang mengubah nasib bangsa ini. Semua itu pun tak lepas dari status yang kita sandang hari ini.
Jika hari ini kita seorang ibu rumah tangga, perankanlah seorang ibu rumah tangga yang bijak mendidik anak dengan sebaik-baiknya agar menjadi jujur, dapat dipercaya, bijak,intektual , bertanggung jawab dan sadar untuk menjadi warga bangsa Indonesia yang revolusioner. Jika kita hari ini adalah pemimpin, maka sadarkanlah diri kita selalu agar meneladani sosok pemimpin yang bijak dan tidak rakus , bukan meneladani sosok pemimpin yang nikmat hidupnya dengan menghisap kekayaan yang bukan haknya. Jika hari ini kita mengaku sebagai kaum agamawan atau ulama, maka kita harus sadar untuk setia dalam mendidik masyarakat agar kuat iman dan takwanya tanpa memisahkannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika hari ini kita berperan sebagai orang yang sudah lanjut usia, jangan menyimpulkan diri kita tidak bisa atau tidak berhak memainkan peran dalam merevolusi nasib bangsa ini. Setidaknya kita dapat menuliskan wasiat untuk anak cucu kita agar selalu istiqomah memegang nilai-nilai yang baik dan menjaga terus cita-cita bangsa untuk mengobati luka ibu pertiwi. Apalagi jika hari ini kita menyandang status sebagai pemuda khususnya mahasiswa yang mengaku dirinya sebagai kaum intelektual, sudah waktunya kita menjadi agent of change yang revolusioner mengubah nasib bangsa ini, membuktikan kesegaran jiwa mudanya dengan ilmu yang telah didapatkannya. Hari ini kiranya bukan waktunya para pemuda bersilat lidah, berdebat yang memunculkan permusuhan, tawuran karena membesar-besarkan masalah kecil, atau meneriakkan keinginan-keinginan dengan demonstrasi anarkis. Dengan begitu, mudah-mudahan usaha kita sekecil apapun itu tetap bermanfaat untuk perbaikan nasib bangsa ini.
Perlu kita ingat, setiap peran punya tanggung jawab. Maka peran kita hari ini adalah cara kita memanfaatkannya, karena setiap diri kita punya potensi dalam memerankannya. Korupsi yang menjamur di ranah pemerintahan negeri tercinta adalah tanggung jawab kita, mulai detik ini kita harus hidup menjadi subjek yang mempelopori semua perubahan, kemajuan dan kehidupan. Mau tidak mau, dan tak perlu malu , kita harus mengaku hanya kita yang bisa diandalkan.

Romusha Kamuflase Propaganda Jepang


Saat Indonesia pada masa pendudukan Jepang, Indonesia mengalami berbagai dinamika dalam berbagai hal, terutama militer yang masih sangat berpengaruh hingga saat ini. Jepang, akibat terlibat dalam perang dunia ke-2 mengerahkan seluruh kekuatannya termasuk negara yang ia kuasai pada saat itu terutama Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah menjadi sasaran empuk untuk dieksploitasi secara maksimal. Jepang pada masa itu sangat memerlukan berbagai hal yang menyangkut kebutuhan perang melawan sekutu. Indonesia telah dikenal sebagai negara dengan potensi sumber daya yang melimpah, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.Terlebih Jepang sendirian berdiri melawan kekuatan sekutu yang terdiri dari beberapa negara.
Dalam sejarah kolonialisme, Jepang merupakan negara pertama di Asia yang memiliki pandangan dan aksi kolonialisme. Kolonialisme Jepang memang pada akhirnya menjadi kolonialisme yang sangat pendek. Kolonialime Jepang memang belum sebanding jika disandingkan dengan kolonialime bangsa bangsa Eropa atas Asia, Afrika, dan Amerika dalam sejarah abad ke-15 hingga ke-20.
Memang harus diakui, Jepang sempat mengejutkan Eropa, menjelma menjadi kekuatan kapital-militeristik yang membuat repot Eropa dan Amerika. Beroperasinya kolonialisme Jepang disusun oleh Tanaka arsitek perang modern yang juga menjadi perdana menteri Jepang waktu 1927-1929. Pikiran pikiran Tanaka ditungakannya ke dalam Memorandum Tanaka. Memorandum ini berisi rencana Jepang untuk memikul tugas suci untuk memimpin bangsa bangsa Asia Timur. Pandangan ini pada akhirnya mewujud menjadi doktrin dengan nama Hakko I Chiu; dunia dalam satu keluarga dibawah pimpinan Jepang.
Terinsipirasi dari semangat ini, berubahlah Jepang menjadi kekuatan militer yang sangat disegani. Dalam sejarah perang dunia 2, kemampuan militer Jepang dalam sesaat mampu menghancurkan sekutu, dan dalam sekepap menguasai Asia Tenggara dan sebagian pasifik. Dominasi Jepang ini pada akhirnya berakhir dengan tragis, dalam satu hari pada 9 Agustus 1945 pesawat pembom B 29 milik Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di KotaHiroshima dan Nagasaki. Inilah momentum kekalahan Jepang, serta berakhir pulalah dominasinya di Asia timur dan sebagian Pasifik.
Dalam beberapa tahun sebelumnya Jepang memang terlihat tangguh karena berhasil  mengalahkan Rusia yang merupakan negara besar, namun dalam perang dunia tentunya Jepang memiliki resiko yang besar, sebab Jepang melawan sekutu yang terdiri dari beberapa negara yang kecil memang tetapi punya banyak koloni dan pengaruh besar.
Indonesia memiliki segala yang diperlukan Jepang dalam masa peperangan, tercatat bahwa Jepang sangat berambisi untuk menduduki Jepang, terlihat saat Indonesia pada masa pemerintahan Hindia Belanda beberapa orang Jepang telah dikirim ke Indonesia untuk melakukan pengamatan dan mengabarkan segala kondisi dan situasi di Indonesia. Oleh karena itu, Jepang berhasil memasang strategi dan akhirnya dapat merebut Indonesia dari tangan pemerintahan kolonial Belanda.
Jepang berhasil menarik simpati rakyat Indonesia dengan berbagai propaganda yang dibuatnya, orang-orang yang berpengaruh bagi masyarakat Indonesia pun didekatinya dan diberikan harapan-harapan yang akan terjadi bila Indonesia bersedia membantu Jepang dalam perang dunia melawan sekutu. Akhirnya, rakyat Indonesia pun berhasil dikerahkan untuk membantu segala keperlua perang jepang. Organisasi-organisasi yang beranggotakan rakyat Indonesia pun dibentuk oleh Jepang, mereka diklasifikasikan berdasrkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki untuk kemudian dimanfaatkan bagi keperluan perang.
Salah satu pasukan yang sangat terkenal dan merupakan tenaga rakyat Indonesia  yang paling besar dikerahkan bagi keperluan Jepang adalah romusha. Romusha sangat famous dengan pemaknaan kerja paksa pada masa pendudukan Jepang. Bila sebelumnya rakyat Indonesia mengalami pahitnya kerja rodi sebagai kerja paksa pada masa pemerintahan Hindia Belanda, pada Jepang penderitaan itu belum berujung pula malah Jepang yang dianggap masih sebagai saudara jauh adalah pelakunya. Romusha dalam bahasa  Jepang berarti buruh kerja,dan romusha merupakan eksploitasi pekerja kasa yang terdiri dari tenaga rakyat Indonesia.
Pada pengerahan romusha, pemerintah militer Jepang terlibat langsung bersama para pemimpin rakyat Indonesia baik orang yang termasuk paling berpengaruh, tokoh masyarakat, dan para kepala desa. Dalam sidang Chuo Sangi In antar para pemimpin rakyat Indonesia dengan pemerintah militer Jepang, mempertimbangkan untuk mengerahkan tenaga rakyat secara maksimal ke dalam romusha. Dalam sidang Chuo Sangi In yang memotivasi rakyat agar bersedia untuk bekerja secara sukarela.
Para anggota romusha sebagian besar terdiri dari petani yang dipekerjakan untuk bertani demi kepentingan pangan tentara Jepang . Romusha mengambil massa dari rakyat pedesaan, dengan bantuan kepala desa masyarakat tersebut diperintahkan untuk bergabung menjadi romusha. Lalu, apakah hal-hal yang menyebabkan romusha berubah menjadi sistem kerja paksa?..
Beberapa hal tersebut bisa kita lihat pada beberapa kejadian:
1.      Rakyat yang tadinya menjadi sukarelawan untuk bekerja sebagai romusha, tetapi setelah mereka bekerja malah diberikan balasan yang tidak layak. Kesaksian para romusha dulu mereka dipaksa untuk bekerja dengan waktu penuh, mereka bahkan tidak diperbolehlkan istirahat sedikit saja dan tidak diperbolehkan pulang walaupun hanya sebentar saja. Waktu mereka istirahat hanyalah malam hari.
2.      Rakyat yang malas bekerja atau kelelahan tidak diperbolehkan beristirahat, jika begitu mereka akan disiksa oleh orang Jepang yang mengawasi mereka di kamp.
3.      Para petani yang bekerja di sawah dipaksa menanam pohon jarak untuk kebutuhan bahan bakar kendaraan perang Jepang. Petani yang biasanya menanam padi dan kebutuhan pangan saat itu tidak bisa makan, karena tanaman pangan jadi langka dan sekalipun ada hanyalah untuk kebutuhan pangan tentara Jepang. Akibatnya, rakyat Indonesia miskin dan menderita, bahkan banyak rakyat Indonesia yang tidak hanya minim dalam masalah pangan, untuk memenuhi kebutuhan sandang pun mereka sampai harus mengenakan karung goni yang gatal untuk berpakaian.
4.      Akibat sistem romusha yang terlalu kejam, banyak anggota romusha mengundurkan diri, bahkan diantara mereka banyak yang membayar dengan uang agar nama mereka tidak tercantum dalam keanggotaan romusha. Banyak juga para pemuda di desa yang melakukan urbanisasi karena takut dijadikan romusha, setidaknya dengan usaha mereka pindah dari desa ke kota, mereka akan terhindar dari romusha dan mendapat kedudukan yang lebih baik di kota.
5.      Rakyat tetap sulit menghindari kerja paksa romusha, karena badan hukum yang dibentuk oleh Jepang menakut-nakuti setiap warga desa yang tidak mau dijadikan romusha bahwa mereka akan dikucilkan dari penduduk desanya.
6.      Romusha menjadi ajang balas dendam, jadi jika ada salah satu anggota romusha yang memiliki dendam ia akan menuliskan nama orang yang ia mau agar namanya digantikan dan orang yang ia mau akan dijadikan romusha.
7.      Romusha yang direkrut sebagian dari mereka dikirim ke luar negeri untuk bekerja, dan mereka disana tidak boleh kembali pulang. Mereka menanggung seleruh penderitaan di sana hingga akhir hayat mereka.Kecuali, setelah Jepang menyerah pada sekutu mereka bisa pulang tetapi hanya sebagian kecil saja yang mampu.
8.      Para romusha diperlakukan tidak sesuai dengan usul anggota Chuo Sangi In. Mereka dipekerjakan sangat buruk. Dari pagi buta sampai petang mereka dipaksa bekerja kasar tanpa makan dan perawatan cukup. Kondisi fisik mereka lemah bahkan hamper tidak punya sisa kekuatan. Bahkan jika mereka beristirahat walaupun hanya sebentar saja, mereka akan dimaki-maki dan juga dipukul oleh pengawas dari Jepang. Mereka diberi kesempatan beristirahat hanya pada malam hari saja, tetapi mereka tidak sempat memasak air minum. Banyak para romusha yang terserang malaria, hal ini dikarenakan mereka buang air disembarang tempat dan membuat terjangkitnya wabah disenteri. Banyak romusha yang meninggal, karena antara bekerja dengan asumsi makanan tidak seimbang. Akan tetapi Jepang tetap saja ingin usahanya berjalan lancar. Maka Jepang melancarkan kembali kampanye propagandanya, para romusha mendapat julukan sebagai “prajurit ekonomi” atau “pahlawan pekerja” yang artinya orang-orang yang sedang menjalankan ibadah suci atau bekerja untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya.
Untuk menghilangkan ketakutan penduduk dan menutupi rahasia itu, sejak tahun 1943 Jepang melancarkan kampanye baru, yang mengatakan bahwa romusha adalah “prajurit ekonomi” atau “pahlawan pekerja”. Penggunaan kata “kuli” bagi romusha dianggap menghina dan merendahkan derajat “prajurit ekonomi” ini. Mereka digambarkan sebagai prajurit-prajurit yang menunaikan tugas-tugas sucinya untuk angkatan perang Jepang dan sumbangan mereka terhadap usaha perang itu mendapat pujian setinggi langit.
Diantara para romusa yang berasal dari tokoh pergerakan adalah Soekarno dan Otto Iskandardinata. Mereka berdua dipaksan tentara pendudukan Jepang untuk membuat lapangan udara darurat.
Jepang melakukan rekruitmen calon calon romusha, pola tingkatan, serta alokasi tenaga kerja paksa ini. Basis paparannya melihat praktik romusa dan proyek proyeknya di Gunung Madur dan sekitar Banten. Namun pada saat yang sama, Jepang berhasil memanipulasi keberadaan romusa ini ke dunia internasional. Untuk menyamarkan keberadaan romusa, Jepang memperhasul istilah romusa dengan “pekerja ekonomi” atau pahlawan pekerja.
Pada pertengahan tahun 1943, para romusa semakin di eksploitasi oleh Jepang. Karena kekalahan Jepang pada Perang Pasifik, Romusa romusa ini digunakan sebagai tenaga swasembada untuk mendukung perang secara langsung. Karena disetiap angkatan perang Jepang membutuhkan tenaga tenaga kerja paksa ini untuk mengefisiensikan biaya perang Jepang. Pada situasi seperti ini, permintaan terhadap romusa semakin tak terkendali.
Jika kita melihat angka tahunnya, proyek romusha di Indonesia berjalan dalam tempo dua tahun. Bukanlah waktu yang pendek untuk menghasilkan penderitaan dan kematian sebagaimana yang terungkap dalam data diatas. Barulah pada tahun 1945, Hindia Belanda merdeka menjadi Indonesia, serta mengakhiri proyek dan impian kolonialisasi Jepang.
Romusha adalah panggilan bagi orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di indonesia dari tahun 1942 hingga 1945. Kebanyakan romusha adalah petani, dan sejak Oktober 1943 pihak Jepang mewajibkan para petani menjadi romusha. Jumlah orang-orang yang menjadi romusha tidak diketahui pasti-perkiraan yang ada bervariasi dari 4-10 juta.
Selama berada ditempat kerja sampai pulang ke kampong halamannya, ternyata romusha mendapat fasilitas sangat minim dan banyak yang tidak diberi upah, tetapi tidak dapat menuntut karena memang tidak ada
perjanjian kerja tertulis. Mereka dikerahkan menjadi tenaga kerja paksa dan buruh yang diberi upah selayaknya.Sebelum penyerahan Belanda kepada Jepang tanggal 8 Maret 1942, Jepang
telah memperhitungkan bahwa Pulau Jawa akan mampu menyediakan tenaga manusia dalam jumlah yang memadai untuk memenangkan perang. Perhitungan itu didasarkan atas kenyataan bahwa jumlah penduduk di Pulau Jawa sangat banyak, ditambah lagi dengan pertumbuhannya yang begitu pesat. Sehingga  Jepang tidak bakal mengalami kesulitan dalam hal kebutuhan tenaga kerja romusha, karena disamping itu jumlah persediaan manusia cukup juga biaya murah. Tenaga diambil secara paksa, dan tidak perlu banyak
pengeluaran biaya baik untuk makan maupun pengobatan. Begitu pula untuk mencari pengganti bagi tenaga romusha yang mati, karena di Jawa terdapat persediaan manusia cukup banyak. Berdasarkan pola pemikiran itulah maka  Jepang denga leluasa memanfaatkan tenaga manusia yang ada di Pulau Jawa dan dengan matinya beribu-ribu romusha seakan-akan tidak menjadi beban moral.
Mereka meninggal karena kekurangan makan, kelelahan, malaria dan terjangkit penyakit. Selain itu juga karena kerasnya pengawasan dan siksaan Jepang yang kejam dan tidak berperi kemanusiaan. Dibarak-barak romusha tidak tersedia perawatan dan tenaga kesehatan. Seakan-akan telah menjadi rumus bahwa siapa yang tidak lagi kuat bekerja maka akan mati.
Sebagai mana alam pemikiran jepang, bahwa bukan manusianya yang diperhitungkan melainkan tujuannya yaitu “menang perang”.
Para tenaga kerja yang disebut romusha atau jepang menyebutnya prajutit pekerja, diperlukan untuk membangun prasarana perang seperti kubu-kubu pertahanan, gudang senjata, jalan raya dan lapangan udara. Selain itu, mereka diperkejakan di pabrik-pabrik seperti pabrik garam dan pabrik kayu di Surabaya dan di Sumatera Selatan, mereka diperkejakan di pabrik pembuatan dinamit di Talangbetutu atau dipertambangan batu bara serta penyulingan minyak. Mereka diperkejakan pula dipelabuhan- pelabuhan antara lain memuat dan membongkar barang-barang dari kapal-kapal. Bahkan di desa Gendeng, dekat Badug, Yohyakarta misalnya romusha menanam sayuran dan palawija guna memenuhi kebutuhan makan Jepang dan romusha itu sendiri.


Pada umumnya mereka diperdapat di desa-desa, terdiri dari pemuda petani dan penganggur. Pulau Jawa sebagai pulau yang padat penduduknya memungkinkan pengerahan tenaga tersebut secara besar-besaran. Pada mulanya tugas-tugas yang dilakukan bersifat sukarela dan pengerahan tenaga tersebut tidak begitu sukar dilakukan, karena orang masih terpengaruh propaganda “ intik kemakmuran bersama Asia Timur Raya. Bahkan, dibeberapa kota terdapat barisan-barisan romusha untuk bekerja ditempat-tempat dan pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, dalam bulan September 1944 sejumlah 500 orang romusha sukarela, yang terdiri dari pegawai tinggi dan menengah serta golongan terpelajar di bawah pimpinan Ir Soekarno berangkat dari kantor besar Jawa Hokokai dengan berjalan kaki ke stasiun tanah abang, Jakarta diiringi orkes suling Maluku. Di antara mereka juga terdapat pula orang Cina, Arab, dan India. Rombongan diikuti pula oleh anggota yang sudah berumur 60 tahun, sehingga Soekarno memuji mereka sebagai masih kuat seperti orang muda.
Lama-kelamaan karena kebutuhan yang terus meningkat di seluruh Asia Tenggara, pengerahan tenaga yang bersifat sukarela seperti yang telah diteladani oleh Soekarno itu, berubah manjadi paksaan. Pemerintah
Tentara Ke-16 membentuk suatu badan kusus yang melaksanakan pengerahan  romusha secara besar-besaran pada tahun 1944. Badan ini disebut Romukyoku
Romukyoku membuat peraturan sebagai berikut : orang atau badan yang membutuhkan tenaga romusha lebih dari 30 orang diharuskan mengajukan permohonan kepada kepala daerah setempat. Sipemohon, baik orang maupun badan, harus memiliki perusahaan atau pabrik yang bermanfaat untuk kepentingan perang. Bahkan, banyak di antara petugas pengerahan romusha bersikap curang, seperti mencoret nama yang sudah terdaftar dan menggantikan dengan nama lain karena menerima suap sejumlah uang. Sebaliknya, ada pula kepala desa yang menunjuk seorang yang menjadi romusha sebagai tindakan balas dendam atau rasa tidak suka. Dengan uang pula, seseorang yang sudah terdaftar sebagai romusha dapat menunjuk orang lain sebagai penggantinya.
Romusha yang diperkejakan di proyek-proyek, antara lain pembuatan jalan, jembatan, barak-barak militer, berlangsung selama satu sampai tiga bulan. Lebih dari tiga bulan merupakan masa kerja romusha yang
diperkejakan di proyek-proyek diluar keresidenan mereka. Tidak hanya keluar Jawa, bahkan eomusha dikirim ke luar Indonesia, seperti Birma, Muang, Tgai, Vietnam dan Malaysia.
Tidak sesuai dengan usul yang disampaikan oleh anggota Chuo Sangi In agar para romusha diperlakukan secara layak, ternyata mereka diperlakukan sangat buruk. Sejak pagi buta sampai petang hari mereka
dipaksa melakukan pekerjaan kasar tanpa makan dan perawatan cukup, membuat kondisi fisik mereka menjadi sangat lemah dan mereka gampir tidak punya sisa kekuatan. Jika ada diantara mereka yang beristirahat sekalipun hanya sebentar, hal itu akan mengundang maki-makian dan pukulan-pukulan dari pengawas mereka orang Jepang. Hanya pada malam hari mereka berkesempatan melepaskan lelah. Dalam keadaan demikian, mereka tidak punya daya tahan lagi terhadap penyakit. Karena tidak sempat
memasak air minum, sedangkan buang air di sembarang tempat, berjangkitnya wabah disentri, karena tidak dapat menghindari diri dari serangan nyamuk, banyak diantara mereka yang diserang malaria.
Adapun beberapa perbandinagn  antara kerja rodi dengan romusha, dari sini kita bisa lihat mengapa masa pendudukan Jepang bisa dianggap lebih kejam daripada mas pemerintahan Hindia Belanda
Romusha 
Saat Indonesia pada masa pendudukan Jepang, Indonesia mengalami berbagai dinamika dalam berbagai hal, terutama militer yang masih sangat berpengaruh hingga saat ini. Jepang, akibat terlibat dalam perang dunia ke-2 mengerahkan seluruh kekuatannya termasuk negara yang ia kuasai pada saat itu terutama Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah menjadi sasaran empuk untuk dieksploitasi secara maksimal. Jepang pada masa itu sangat memerlukan berbagai hal yang menyangkut kebutuhan perang melawan sekutu. Indonesia telah dikenal sebagai negara dengan potensi sumber daya yang melimpah, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.Terlebih Jepang sendirian berdiri melawan kekuatan sekutu yang terdiri dari beberapa negara. 
Dalam sejarah kolonialisme, Jepang merupakan negara pertama di Asia yang memiliki pandangan dan aksi kolonialisme. Kolonialisme Jepang memang pada akhirnya menjadi kolonialisme yang sangat pendek. Kolonialime Jepang memang belum sebanding jika disandingkan dengan kolonialime bangsa bangsa Eropa atas Asia, Afrika, dan Amerika dalam sejarah abad ke-15 hingga ke-20.
Memang harus diakui, Jepang sempat mengejutkan Eropa, menjelma menjadi kekuatan kapital-militeristik yang membuat repot Eropa dan Amerika. Beroperasinya kolonialisme Jepang disusun oleh Tanaka arsitek perang modern yang juga menjadi perdana menteri Jepang waktu 1927-1929. Pikiran pikiran Tanaka ditungakannya ke dalam Memorandum Tanaka. Memorandum ini berisi rencana Jepang untuk memikul tugas suci untuk memimpin bangsa bangsa Asia Timur. Pandangan ini pada akhirnya mewujud menjadi doktrin dengan nama Hakko I Chiu; dunia dalam satu keluarga dibawah pimpinan Jepang.
Terinsipirasi dari semangat ini, berubahlah Jepang menjadi kekuatan militer yang sangat disegani. Dalam sejarah perang dunia 2, kemampuan militer Jepang dalam sesaat mampu menghancurkan sekutu, dan dalam sekepap menguasai Asia Tenggara dan sebagian pasifik. Dominasi Jepang ini pada akhirnya berakhir dengan tragis, dalam satu hari pada 9 Agustus 1945 pesawat pembom B 29 milik Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di KotaHiroshima dan Nagasaki. Inilah momentum kekalahan Jepang, serta berakhir pulalah dominasinya di Asia timur dan sebagian Pasifik. 
Dalam beberapa tahun sebelumnya Jepang memang terlihat tangguh karena berhasil  mengalahkan Rusia yang merupakan negara besar, namun dalam perang dunia tentunya Jepang memiliki resiko yang besar, sebab Jepang melawan sekutu yang terdiri dari beberapa negara yang kecil memang tetapi punya banyak koloni dan pengaruh besar.
Indonesia memiliki segala yang diperlukan Jepang dalam masa peperangan, tercatat bahwa Jepang sangat berambisi untuk menduduki Jepang, terlihat saat Indonesia pada masa pemerintahan Hindia Belanda beberapa orang Jepang telah dikirim ke Indonesia untuk melakukan pengamatan dan mengabarkan segala kondisi dan situasi di Indonesia. Oleh karena itu, Jepang berhasil memasang strategi dan akhirnya dapat merebut Indonesia dari tangan pemerintahan kolonial Belanda.
Jepang berhasil menarik simpati rakyat Indonesia dengan berbagai propaganda yang dibuatnya, orang-orang yang berpengaruh bagi masyarakat Indonesia pun didekatinya dan diberikan harapan-harapan yang akan terjadi bila Indonesia bersedia membantu Jepang dalam perang dunia melawan sekutu. Akhirnya, rakyat Indonesia pun berhasil dikerahkan untuk membantu segala keperlua perang jepang. Organisasi-organisasi yang beranggotakan rakyat Indonesia pun dibentuk oleh Jepang, mereka diklasifikasikan berdasrkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki untuk kemudian dimanfaatkan bagi keperluan perang. 
Salah satu pasukan yang sangat terkenal dan merupakan tenaga rakyat Indonesia  yang paling besar dikerahkan bagi keperluan Jepang adalah romusha. Romusha sangat famous dengan pemaknaan kerja paksa pada masa pendudukan Jepang. Bila sebelumnya rakyat Indonesia mengalami pahitnya kerja rodi sebagai kerja paksa pada masa pemerintahan Hindia Belanda, pada Jepang penderitaan itu belum berujung pula malah Jepang yang dianggap masih sebagai saudara jauh adalah pelakunya. Romusha dalam bahasa  Jepang berarti buruh kerja,dan romusha merupakan eksploitasi pekerja kasa yang terdiri dari tenaga rakyat Indonesia. 
Pada pengerahan romusha, pemerintah militer Jepang terlibat langsung bersama para pemimpin rakyat Indonesia baik orang yang termasuk paling berpengaruh, tokoh masyarakat, dan para kepala desa. Dalam sidang Chuo Sangi In antar para pemimpin rakyat Indonesia dengan pemerintah militer Jepang, mempertimbangkan untuk mengerahkan tenaga rakyat secara maksimal ke dalam romusha. Dalam sidang Chuo Sangi In yang memotivasi rakyat agar bersedia untuk bekerja secara sukarela.
Para anggota romusha sebagian besar terdiri dari petani yang dipekerjakan untuk bertani demi kepentingan pangan tentara Jepang . Romusha mengambil massa dari rakyat pedesaan, dengan bantuan kepala desa masyarakat tersebut diperintahkan untuk bergabung menjadi romusha. Lalu, apakah hal-hal yang menyebabkan romusha berubah menjadi sistem kerja paksa?..
Beberapa hal tersebut bisa kita lihat pada beberapa kejadian:
1. Rakyat yang tadinya menjadi sukarelawan untuk bekerja sebagai romusha, tetapi setelah mereka bekerja malah diberikan balasan yang tidak layak. Kesaksian para romusha dulu mereka dipaksa untuk bekerja dengan waktu penuh, mereka bahkan tidak diperbolehlkan istirahat sedikit saja dan tidak diperbolehkan pulang walaupun hanya sebentar saja. Waktu mereka istirahat hanyalah malam hari.
2. Rakyat yang malas bekerja atau kelelahan tidak diperbolehkan beristirahat, jika begitu mereka akan disiksa oleh orang Jepang yang mengawasi mereka di kamp.
3. Para petani yang bekerja di sawah dipaksa menanam pohon jarak untuk kebutuhan bahan bakar kendaraan perang Jepang. Petani yang biasanya menanam padi dan kebutuhan pangan saat itu tidak bisa makan, karena tanaman pangan jadi langka dan sekalipun ada hanyalah untuk kebutuhan pangan tentara Jepang. Akibatnya, rakyat Indonesia miskin dan menderita, bahkan banyak rakyat Indonesia yang tidak hanya minim dalam masalah pangan, untuk memenuhi kebutuhan sandang pun mereka sampai harus mengenakan karung goni yang gatal untuk berpakaian.
4. Akibat sistem romusha yang terlalu kejam, banyak anggota romusha mengundurkan diri, bahkan diantara mereka banyak yang membayar dengan uang agar nama mereka tidak tercantum dalam keanggotaan romusha. Banyak juga para pemuda di desa yang melakukan urbanisasi karena takut dijadikan romusha, setidaknya dengan usaha mereka pindah dari desa ke kota, mereka akan terhindar dari romusha dan mendapat kedudukan yang lebih baik di kota.
5. Rakyat tetap sulit menghindari kerja paksa romusha, karena badan hukum yang dibentuk oleh Jepang menakut-nakuti setiap warga desa yang tidak mau dijadikan romusha bahwa mereka akan dikucilkan dari penduduk desanya.
6. Romusha menjadi ajang balas dendam, jadi jika ada salah satu anggota romusha yang memiliki dendam ia akan menuliskan nama orang yang ia mau agar namanya digantikan dan orang yang ia mau akan dijadikan romusha. 
7. Romusha yang direkrut sebagian dari mereka dikirim ke luar negeri untuk bekerja, dan mereka disana tidak boleh kembali pulang. Mereka menanggung seleruh penderitaan di sana hingga akhir hayat mereka.Kecuali, setelah Jepang menyerah pada sekutu mereka bisa pulang tetapi hanya sebagian kecil saja yang mampu.
8. Para romusha diperlakukan tidak sesuai dengan usul anggota Chuo Sangi In. Mereka dipekerjakan sangat buruk. Dari pagi buta sampai petang mereka dipaksa bekerja kasar tanpa makan dan perawatan cukup. Kondisi fisik mereka lemah bahkan hamper tidak punya sisa kekuatan. Bahkan jika mereka beristirahat walaupun hanya sebentar saja, mereka akan dimaki-maki dan juga dipukul oleh pengawas dari Jepang. Mereka diberi kesempatan beristirahat hanya pada malam hari saja, tetapi mereka tidak sempat memasak air minum. Banyak para romusha yang terserang malaria, hal ini dikarenakan mereka buang air disembarang tempat dan membuat terjangkitnya wabah disenteri. Banyak romusha yang meninggal, karena antara bekerja dengan asumsi makanan tidak seimbang. Akan tetapi Jepang tetap saja ingin usahanya berjalan lancar. Maka Jepang melancarkan kembali kampanye propagandanya, para romusha mendapat julukan sebagai “prajurit ekonomi” atau “pahlawan pekerja” yang artinya orang-orang yang sedang menjalankan ibadah suci atau bekerja untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya.
Untuk menghilangkan ketakutan penduduk dan menutupi rahasia itu, sejak tahun 1943 Jepang melancarkan kampanye baru, yang mengatakan bahwa romusha adalah “prajurit ekonomi” atau “pahlawan pekerja”. Penggunaan kata “kuli” bagi romusha dianggap menghina dan merendahkan derajat “prajurit ekonomi” ini. Mereka digambarkan sebagai prajurit-prajurit yang menunaikan tugas-tugas sucinya untuk angkatan perang Jepang dan sumbangan mereka terhadap usaha perang itu mendapat pujian setinggi langit.
Diantara para romusa yang berasal dari tokoh pergerakan adalah Soekarno dan Otto Iskandardinata. Mereka berdua dipaksan tentara pendudukan Jepang untuk membuat lapangan udara darurat.
Jepang melakukan rekruitmen calon calon romusha, pola tingkatan, serta alokasi tenaga kerja paksa ini. Basis paparannya melihat praktik romusa dan proyek proyeknya di Gunung Madur dan sekitar Banten. Namun pada saat yang sama, Jepang berhasil memanipulasi keberadaan romusa ini ke dunia internasional. Untuk menyamarkan keberadaan romusa, Jepang memperhasul istilah romusa dengan “pekerja ekonomi” atau pahlawan pekerja.
Pada pertengahan tahun 1943, para romusa semakin di eksploitasi oleh Jepang. Karena kekalahan Jepang pada Perang Pasifik, Romusa romusa ini digunakan sebagai tenaga swasembada untuk mendukung perang secara langsung. Karena disetiap angkatan perang Jepang membutuhkan tenaga tenaga kerja paksa ini untuk mengefisiensikan biaya perang Jepang. Pada situasi seperti ini, permintaan terhadap romusa semakin tak terkendali.
Jika kita melihat angka tahunnya, proyek romusha di Indonesia berjalan dalam tempo dua tahun. Bukanlah waktu yang pendek untuk menghasilkan penderitaan dan kematian sebagaimana yang terungkap dalam data diatas. Barulah pada tahun 1945, Hindia Belanda merdeka menjadi Indonesia, serta mengakhiri proyek dan impian kolonialisasi Jepang.
Romusha adalah panggilan bagi orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di indonesia dari tahun 1942 hingga 1945. Kebanyakan romusha adalah petani, dan sejak Oktober 1943 pihak Jepang mewajibkan para petani menjadi romusha. Jumlah orang-orang yang menjadi romusha tidak diketahui pasti-perkiraan yang ada bervariasi dari 4-10 juta.
Selama berada ditempat kerja sampai pulang ke kampong halamannya, ternyata romusha mendapat fasilitas sangat minim dan banyak yang tidak diberi upah, tetapi tidak dapat menuntut karena memang tidak ada 
perjanjian kerja tertulis. Mereka dikerahkan menjadi tenaga kerja paksa dan buruh yang diberi upah selayaknya.Sebelum penyerahan Belanda kepada Jepang tanggal 8 Maret 1942, Jepang 
telah memperhitungkan bahwa Pulau Jawa akan mampu menyediakan tenaga manusia dalam jumlah yang memadai untuk memenangkan perang. Perhitungan itu didasarkan atas kenyataan bahwa jumlah penduduk di Pulau Jawa sangat banyak, ditambah lagi dengan pertumbuhannya yang begitu pesat. Sehingga  Jepang tidak bakal mengalami kesulitan dalam hal kebutuhan tenaga kerja romusha, karena disamping itu jumlah persediaan manusia cukup juga biaya murah. Tenaga diambil secara paksa, dan tidak perlu banyak 
pengeluaran biaya baik untuk makan maupun pengobatan. Begitu pula untuk mencari pengganti bagi tenaga romusha yang mati, karena di Jawa terdapat persediaan manusia cukup banyak. Berdasarkan pola pemikiran itulah maka  Jepang denga leluasa memanfaatkan tenaga manusia yang ada di Pulau Jawa dan dengan matinya beribu-ribu romusha seakan-akan tidak menjadi beban moral.
Mereka meninggal karena kekurangan makan, kelelahan, malaria dan terjangkit penyakit. Selain itu juga karena kerasnya pengawasan dan siksaan Jepang yang kejam dan tidak berperi kemanusiaan. Dibarak-barak romusha tidak tersedia perawatan dan tenaga kesehatan. Seakan-akan telah menjadi rumus bahwa siapa yang tidak lagi kuat bekerja maka akan mati. 
Sebagai mana alam pemikiran jepang, bahwa bukan manusianya yang diperhitungkan melainkan tujuannya yaitu “menang perang”.
Para tenaga kerja yang disebut romusha atau jepang menyebutnya prajutit pekerja, diperlukan untuk membangun prasarana perang seperti kubu-kubu pertahanan, gudang senjata, jalan raya dan lapangan udara. Selain itu, mereka diperkejakan di pabrik-pabrik seperti pabrik garam dan pabrik kayu di Surabaya dan di Sumatera Selatan, mereka diperkejakan di pabrik pembuatan dinamit di Talangbetutu atau dipertambangan batu bara serta penyulingan minyak. Mereka diperkejakan pula dipelabuhan- pelabuhan antara lain memuat dan membongkar barang-barang dari kapal-kapal. Bahkan di desa Gendeng, dekat Badug, Yohyakarta misalnya romusha menanam sayuran dan palawija guna memenuhi kebutuhan makan Jepang dan romusha itu sendiri.



Pada umumnya mereka diperdapat di desa-desa, terdiri dari pemuda petani dan penganggur. Pulau Jawa sebagai pulau yang padat penduduknya memungkinkan pengerahan tenaga tersebut secara besar-besaran. Pada mulanya tugas-tugas yang dilakukan bersifat sukarela dan pengerahan tenaga tersebut tidak begitu sukar dilakukan, karena orang masih terpengaruh propaganda “ intik kemakmuran bersama Asia Timur Raya. Bahkan, dibeberapa kota terdapat barisan-barisan romusha untuk bekerja ditempat-tempat dan pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, dalam bulan September 1944 sejumlah 500 orang romusha sukarela, yang terdiri dari pegawai tinggi dan menengah serta golongan terpelajar di bawah pimpinan Ir Soekarno berangkat dari kantor besar Jawa Hokokai dengan berjalan kaki ke stasiun tanah abang, Jakarta diiringi orkes suling Maluku. Di antara mereka juga terdapat pula orang Cina, Arab, dan India. Rombongan diikuti pula oleh anggota yang sudah berumur 60 tahun, sehingga Soekarno memuji mereka sebagai masih kuat seperti orang muda.
Romusha Rodi
Namun dengan rasa ketersiksaan itu, rakyat yang melakukan tanam paksa ini (romusha) telah berhasil mendirikan banyak bangunan bersejarah, rel kereta api yang sampai sekarang dinikmati, akses jalan distribusi lintas pertukaran ekonomi di pulau Jawa maupun Sumatera. Atas partisipasi dalam system tanam paksa ini rakyat telah memberikan arti bagi negara dan bisa dikatakan bahwa hasil mereka sebagai denyut urat nadi perkembangan perekonomian negara.


Lama-kelamaan karena kebutuhan yang terus meningkat di seluruh Asia Tenggara, pengerahan tenaga yang bersifat sukarela seperti yang telah diteladani oleh Soekarno itu, berubah manjadi paksaan. Pemerintah 
Tentara Ke-16 membentuk suatu badan kusus yang melaksanakan pengerahan  romusha secara besar-besaran pada tahun 1944. Badan ini disebut Romukyoku
Romukyoku membuat peraturan sebagai berikut : orang atau badan yang membutuhkan tenaga romusha lebih dari 30 orang diharuskan mengajukan permohonan kepada kepala daerah setempat. Sipemohon, baik orang maupun badan, harus memiliki perusahaan atau pabrik yang bermanfaat untuk kepentingan perang. Bahkan, banyak di antara petugas pengerahan romusha bersikap curang, seperti mencoret nama yang sudah terdaftar dan menggantikan dengan nama lain karena menerima suap sejumlah uang. Sebaliknya, ada pula kepala desa yang menunjuk seorang yang menjadi romusha sebagai tindakan balas dendam atau rasa tidak suka. Dengan uang pula, seseorang yang sudah terdaftar sebagai romusha dapat menunjuk orang lain sebagai penggantinya.
Romusha yang diperkejakan di proyek-proyek, antara lain pembuatan jalan, jembatan, barak-barak militer, berlangsung selama satu sampai tiga bulan. Lebih dari tiga bulan merupakan masa kerja romusha yang 
diperkejakan di proyek-proyek diluar keresidenan mereka. Tidak hanya keluar Jawa, bahkan eomusha dikirim ke luar Indonesia, seperti Birma, Muang, Tgai, Vietnam dan Malaysia.
Tidak sesuai dengan usul yang disampaikan oleh anggota Chuo Sangi In agar para romusha diperlakukan secara layak, ternyata mereka diperlakukan sangat buruk. Sejak pagi buta sampai petang hari mereka 
dipaksa melakukan pekerjaan kasar tanpa makan dan perawatan cukup, membuat kondisi fisik mereka menjadi sangat lemah dan mereka gampir tidak punya sisa kekuatan. Jika ada diantara mereka yang beristirahat sekalipun hanya sebentar, hal itu akan mengundang maki-makian dan pukulan-pukulan dari pengawas mereka orang Jepang. Hanya pada malam hari mereka berkesempatan melepaskan lelah. Dalam keadaan demikian, mereka tidak punya daya tahan lagi terhadap penyakit. Karena tidak sempat 
memasak air minum, sedangkan buang air di sembarang tempat, berjangkitnya wabah disentri, karena tidak dapat menghindari diri dari serangan nyamuk, banyak diantara mereka yang diserang malaria.
Adapun beberapa perbandinagn  antara kerja rodi dengan romusha, dari sini kita bisa lihat mengapa masa pendudukan Jepang bisa dianggap lebih kejam daripada mas pemerintahan Hindia Belanda

1.      Diberlakukan oleh Jepang
2.      System kerja paksa pembuatan pembangunan secara umum
3.      Dimulai pada tahun 1944
4.      Kurang lebih 70.000 korban jiwa dan 300.000 dalam keadaan menyedihkan
5.      Sebagian besar para wanita dijadikan Jugun Ianfu atau wanita penghibur tentara Jepang
6.      Adanya jalan-jalan, lapangan terbang, dan jembatan yang dapat digunakan rakyat Indonesia di kemudian hari
7.      Langsung diberlakukan oleh Jepang dan kesengsaraan rakyat benar-benar diketahui oleh Jepang tanpa memperdulikan nasib rakyat Indonesia
8.      Romusha diberlakukan untuk memenuhi kebutuhan secara umum rakyat Jepang 1.      Diberlakukan oleh Belanda
2.      System tanam paksa, pemungutan pajak dari rakyat Indonesia dalam bentuk hasil-hasil pertanian
3.      Dimulai tahun1034 – 1874
4.      Kurang lebih 216.000 korban jiwa
5.      Sebagian besar para wanita diwajibkan menanami lahannya
6.      Dikenalnya sejenis tanaman baru seperti kopi dan indigo, adanya seluruh iragosi, para petani dan dapat menggunakan fasilitas yang dibangun kemudian hari
7.      Awalnya kesengsaraan rakyat akibat tanam paksa tidak diketahui Belanda, tetapi lama-kelamaan Belanda tahu tindakan kewenang-wenangan pegawai pemerintah Belanda
8.      Bertujuan memperoleh pendapatan sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat untuk menutupi kas Negara dan membayar hutang negara

Dengan demikian, atas jasa mereka tentu kita harus memberikan apresiasi yang sangat tinggi bahwa “Romusha Itu Pahlawaan Negara” yang tidak bisa kita abaikan begitu saja. Negara harus mencari data dan fakta dimasa itu agar memudahkan identifikasi persoalan. Karena romusha itu bukanlah hal yang negatif dalam pandangan penulis, akan tetapi sangat positif bagi negara ketika rakyat yang terlibat dalam agenda romusha (tanam paksa) itu bekerja dengan rasa nasionalisme tinggi demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Ketika negara melupakan sejarah, maka disaat yang sama negara juga melupakan jati dirinya. Ketika rakyat tidak berusaha mengenang jasa para pahlawan romusha itu, maka selama itu pula rakyat melanggar kedaulatannya sendiri. Mereka rela bekerja tanpa dibayar dengan apapun demi kepentingan kemerdekaan bangsa Indonesia, walaupun Bung Karno waktu itu berusaha melakukan negosiasi politik untuk memudahkan jalannya deklarasi.
Pada tahun 1945 akhirnya Jepang menyerah pada sekutu, karena kota Hiroshima dan Nagasaki berhasil di bom pada bulan Agustus saat itu. Jepang merasa sangat terpukul dengan kekalahan telak pada perang dunia ini. Akhirnya negara-negara koloni Jepang pun  terbengakalai. Begitupun dengan romusha, beruntung romusha yang berada di dalam negeri, tetapi romusha yang telah dikirim Jepang ke luar negeri seperti Birma, Maung Thai, Vietnam, dan Malaya. Menurut laporan dari pihak Inggris dan Belanda, para romusha hanya seperempat dari 50.000 orang yang berhasil kembali ke Indonesia, sisanya meninggal dunia di tempat mereka bekerja.
Maka dampak dari adanya romusha adalah penderitaan yang amat sangat , Romusha merekrut penduduk desa yang tentu kita ketahui bahwa desa-desa hanya ditinggali oleh para wanita, anak-anak, manula, dan para pemuda yang tidak sehat. Banyaknya pengerahan kaum tani, mengakibatkan para pemuda lebih memilih untuk ‘lari’ dari desanya menuju kota. Bagi mereka, lari lebih baik ketimbang harus menjadi romusha. Nanti, para pemuda ini akan kembali ke desanya dengan berbekal pengalaman yang lebih luas. Pun bagi mereka yang romusha (selamat), pulang ke desanya dengan membawa pengetahuan baru. Tentang apa yang telah mereka lihat, dengar, dan hal-hal baru yang mereka pelajari. Setidaknya, ini sisi positif dari sebuah program bernama romusha.


Namun dengan rasa ketersiksaan itu, rakyat yang melakukan tanam paksa ini (romusha) telah berhasil mendirikan banyak bangunan bersejarah, rel kereta api yang sampai sekarang dinikmati, akses jalan distribusi lintas pertukaran ekonomi di pulau Jawa maupun Sumatera. Atas partisipasi dalam system tanam paksa ini rakyat telah memberikan arti bagi negara dan bisa dikatakan bahwa hasil mereka sebagai denyut urat nadi perkembangan perekonomian negara.
Dengan demikian, atas jasa mereka tentu kita harus memberikan apresiasi yang sangat tinggi bahwa “Romusha Itu Pahlawaan Negara” yang tidak bisa kita abaikan begitu saja. Negara harus mencari data dan fakta dimasa itu agar memudahkan identifikasi persoalan. Karena romusha itu bukanlah hal yang negatif dalam pandangan penulis, akan tetapi sangat positif bagi negara ketika rakyat yang terlibat dalam agenda romusha (tanam paksa) itu bekerja dengan rasa nasionalisme tinggi demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Ketika negara melupakan sejarah, maka disaat yang sama negara juga melupakan jati dirinya. Ketika rakyat tidak berusaha mengenang jasa para pahlawan romusha itu, maka selama itu pula rakyat melanggar kedaulatannya sendiri. Mereka rela bekerja tanpa dibayar dengan apapun demi kepentingan kemerdekaan bangsa Indonesia, walaupun Bung Karno waktu itu berusaha melakukan negosiasi politik untuk memudahkan jalannya deklarasi.
Pada tahun 1945 akhirnya Jepang menyerah pada sekutu, karena kota Hiroshima dan Nagasaki berhasil di bom pada bulan Agustus saat itu. Jepang merasa sangat terpukul dengan kekalahan telak pada perang dunia ini. Akhirnya negara-negara koloni Jepang pun  terbengakalai. Begitupun dengan romusha, beruntung romusha yang berada di dalam negeri, tetapi romusha yang telah dikirim Jepang ke luar negeri seperti Birma, Maung Thai, Vietnam, dan Malaya. Menurut laporan dari pihak Inggris dan Belanda, para romusha hanya seperempat dari 50.000 orang yang berhasil kembali ke Indonesia, sisanya meninggal dunia di tempat mereka bekerja.

Maka dampak dari adanya romusha adalah penderitaan yang amat sangat , Romusha merekrut penduduk desa yang tentu kita ketahui bahwa desa-desa hanya ditinggali oleh para wanita, anak-anak, manula, dan para pemuda yang tidak sehat. Banyaknya pengerahan kaum tani, mengakibatkan para pemuda lebih memilih untuk ‘lari’ dari desanya menuju kota. Bagi mereka, lari lebih baik ketimbang harus menjadi romusha. Nanti, para pemuda ini akan kembali ke desanya dengan berbekal pengalaman yang lebih luas. Pun bagi mereka yang romusha (selamat), pulang ke desanya dengan membawa pengetahuan baru. Tentang apa yang telah mereka lihat, dengar, dan hal-hal baru yang mereka pelajari. Setidaknya, ini sisi positif dari sebuah program bernama romusha.