Translate

Selasa, 29 Maret 2016

Van Den Bosch dan Cultuurstelsel


             Kekosongan kas Belanda pasca perang Napoleon membuat pemerintah bersikeras untuk mengisi kembali kas Negara dan mencicil hutang Belanda yang membumbung tinggi. Berbagai usulan ditampung untuk mendapatkan cara yang tepat bagi kondisi yang menghimpit tersebut dan berusaha mengeksploitasi keuntungan besar yang didapat dari Negara jajahan yang beriklim tropis ini.  Salah satunya seorang bernama  Johannes Van den Bosch menyampaikan kepada ratu Belanda ususlan-usulan yang nanti disebut sebagai Cultuurstelsel. Pada akhirnya Van den Bosch dipercaya memegang jabatan sebagai gubernur jenderal di Jawa dan tiba di Jawa tahun 1830, karena pada waktu itu juga Van Den Bosch telah berhasil meyakinkan rajanya  bahwa Cultuurstelsel merupakan cara yang tepat dengan meningkatkan produksi tanaman ekspor di  Jawa hingga 20 juta  gulden setiap tahunnya.Pemikiran Van Den Bosch mengenai Cultuurstelsel didasarkan oleh suatu prisip umum yang sederhana. Setiap Desa-desa di Jawa berhutang pajak tanah (landrent) kepada pemerintah , yang biasanya diperhitungkan sebesar 40% dari hasil panen utama desa itu. Rencana Van Den Bosch ialah bahwa setiap desa harus menyisihkan  sebagian tanahnya untuk ditanami komoditas ekspor( kopi,tebu, nila) untuk dijual kepada pemerintah colonial dengan harga yang sudah ditentukan. Dengan begitu , desa mampu melunasi hutang pajak tanahnya.




           Menurut teori sistem, Cultuurstelsel membawa keuntungan bagi setiap pihak. Desa masih memiliki tanah yang lebih luas untuk kegunaannya sendiri dan akan mendapat keuntungan dalam bentuk tunai. Namun, konsep yqang dikatakan bahwa semua pihak akan memperoleh keuntugan dari system ini berubah menjadi bagian dari kisah pemerasan yang besar dalam sejarah penjajahan.  Dengan semakin meningkatnay pembayaran pemerintah untuk hasil-hasil bumi, maka para pejabat memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk menaikkan taksiran pajak tanah, sehingga sebagian besar kelebihan pembayaran komoditas kembali ke tangan pemerintah lagi . 

· Herman Willem Daendels, Napoleon dari Batavia


Herman Willem Daendels sebagai Gubernur jenderal di Hindia Belanda mempunyai banyak peran di Hindia Belanda. Perlu diketahui  Daendels diberikan kewenangan menjadi Gubernur Jenderal di Hindia oleh Raja Louis Napoleon (dalam Bahasa Belanda : Lodewijk) yang pada saat itu Belanda berda di bawah kekuasaan Perancis. Daenndels biasa dijuluki Napoleon dari Batavia, tak salah karena memang Daendels merupakan murid sejati dari revolusi Perancis .Dalam revolusi Perancis ia adalah saksi mata yang antusias dan keprihatinannya terhadap pendidikan. Sebelumnya Daendels memang tak pernah sekalipun menjejaki kakinya di Timur,  namun Daendels mempunyai banyak potensi untuk membersihkan Batavia pada masa kekuasaannya di Hindia.
Akhirnya  pada  tanggal 1 Januari 1808, Daendels tiba di pelabuhan kecil dekat Banten. Pada masa kepemimpinannya itu, perilaku Daendels membuat terkejut banyak orang lama. Daendels mereorganisasi Dewan Hindia , berusaha memangkas korupsi, membangun administrasi ,membangun jalan dan  benteng.Usaha-usaha yang dilakukan Daenndels mendatangkan banyak hasil disamping mendatangkan kebencian besar pada banyak orang yang dirusak kepentinganya.Salah satu tindakan itu adalah reformasi total administrasi. Sampai masa Daendels semua wilayah Belanda sebelah timur Cirebon membentuk  satu provinsi, provinsi Pantai Timur Laut Jawa. Masing-masing provinsi tersebut dipimpin oleh seorang gudernur jenderal, karenaberbagai tunjangan yag berakitan dengan kedudukannya, menikmati penghasilan 100000 gulden pertahun,sementara kalau kita menerima perkataan Daendels maka pemasukan pemerintah dari wilayah itu praktis nol. Dengan dekrit 18 Agustus 1808 provinsi itu dibagi ke dalam lima prefektorat dan 38 kabupaten. Semua pejabat menerima pangkat militer dan gaji yang memadai. Hadiah suap dari bupati-bupati Jawa, keuntungan istimewa  , semua penyalahgunaan itu harus dihentikan pada masa kekuasaan Daendels.
Menurut Daendels dengan mengangkat semua bupati menjadi para pejabat pemerintah Belanda, demi melindungi mereka dari beban pemerasan dan perlakuan menghina dari ppihak pejabat Eropa. Namun pada kenyataannya Sultan-sultan Cirebon diturunkan ke jabatan bupati , ini merupakan degradasi yang layak mereka terima karena penindasan keji yang  mereka lakukan, tetapi akhirnya hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan bangsawan-bangsawan Jawa.
·         

Sekilas Mengenai Diplomasi


            Diplomasi diartikan sebagai salah satu usaha suatu Negara untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya di kalangan masyarakat internasional. Dalam tulisan ini akan menjelaskan mengenai diplomasi budaya yang dilakukan oleh suatu Negara untuk kepentingan nasionalnya. Tulisan ini menggunakan referensi yang dianggap relevan oleh penulis, salah satunya bersumber dari buku S.L Roy yang berjudul diplomasi.
            Pengertian diplomasi di dalam The Chamber Twentieth Century Dictionary, adalah seni berunding khususnya tentang perjanjian diantara Negara-negara mengenai keahlian politik. Secara konvensional diplomasi diartikan sebagai salah satu usaha suatu Negara untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya di kalangan masyarakat internasional. Sedangkan pengertian budaya atau kebudayaan adalah segala hasil dan upaya budidaya manusia terhadap lingkungan. Dengan demikian diplomasi budaya menurut K.M. Panikkar adalah usaha suatu Negara untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya melalui dimensi kebudayaan, baik secara mikro seperti pendidikan, ilmu pengetahuan, olahraga, dan kesenian, ataupun secara makro sesuai dengan cirri-ciri khas yang utama, misalnya propaganda dan lain-lain, yang dalam pengertian konvensional dapat dianggap sebagai bukan politik, ekonomi, ataupun militer. Beberapa litratu menyebunya dengan propaganda.
            Diplomasi dilakukan untuk pengamanan kebebasan politik dan integritas territorial suatu Negara, hal ini biasanya dicapai dengan memperkuat hubungan dengan Negara sahabat, memelihara hubungan erat dengan Negara-negara sehaluan dan menetralisir Negara-negara yang memusuhi. Selain itu, tujuan pokok diplomasi adalah untuk mencegah Negara-negara lain bergabung melawan suatu Negara tertentu. Pada saat sekarang ini, Negara perlu untuk memobilisasi pendapat umum dunia ke pihaknya dan membenarkan tindakannya. Alasan inilah yang menyebabkan diplomasi kebudayaan dipilih sebagai salah satu sarana untuk memobilisasi pendapat umum tersebut. Imperialism kebudayaan adalah nemtuk upaya untuk menaklukkan dan menguasai jiwa manusia serta sebagai sebuah instrument untuk mengubah power antara dua Negara. Sarana diplomasi kebudayaan adalah segala macam alat komunikasi, baik media elektronik maupun media cetak, yang dianggap dapat menyampaikan isi atau misi politik luar negeri tertentu. Materi maupun isi dari diplomasi kebudayaan adalah teknologi, pertukaran ahli dan lain sebagainya. Milton C. Cummings menyatakan bahwa diplomasi budaya adalah sebuah pertukaran ide, informasi, nilai, system, tradisi, kepercayaan, dan aspek budaya lainnya dengan semangat pengertian bersama dan saling menghargai antar sesama.
Diplomasi budaya tergolong dalam bahasan soft power sebagai suatu kekuatan politik yang dipengaruhi budaya, nilai, ide sebagai sisi lain dari hard power yang menggunakan kekuatan militer. Terdapat tiga kriteria mengapa diplomasi budaya menjadi nilai penting dalam teori hubungan internasional. Pertama, untuk mengurangi intensitas kekuatan militer pasca perang dingin, budaya dipandang sebagai sebuah bentuk kekuatan baru dalam hubungan internasional. Kedua, setiap Negara bangsa juga harus membangun dasar dan batas jaringan nonsekuritas dalam hal mempertahankan identitas bangsa. Budaya yang terdiri dari berbagai aspek menjadi identitas suatu Negara di mata internasional. Ketiga, diplomasi budaya juga bisa menjadi alasan kuat dalam hal membentuk sebuah system internasional baru, baik berupa organisasi regional maupun global. Dalam konsep diplomasi dikenal adanya istilah first track diplomacy, second track diplomacy, third track diplomacy, dan multi-track diplomacy. Dalam hal ini, diplomasi kebudayaan termasuk dalam multi-track diplomacy.
            Konsep mengenai multi-track diplomacy adalah sebuah ekspansi dari paradigma track one (government) dan track two (government) yang telah membentuk kajian bidang ini dalam beberapa decade terakhir. Setiap Negara pada saat ini berlomba-lomba untuk menjalankan multi-track diplomacy atau yang biasa disebut diplomasi total. Hal ini terlihat dengan keberadaan divisi diplomasi public hamper di seluruh departemen Luar Negeri di dunia serta semakin menonjolnya peran public dalam berdiplomasi. 

            Diplomasi kebudayaan dapat dilakukan oleh pemerintah maupun non-pemerintah, individual, ataupun kolektif. Sehingga pola diplomasi kebudayaan antar bangsa bisa terjadi antar siapa saja sebagai actor atau pelakunya, karena sasaran diplomasi kebudayaan ini seluruh masyarakat suatu Negara, bukan hanya pemerintahnya saja. Tujuan utama dari diplomasi kebudayaan adalah untuk mempengaruhi pendapat umum masyarakat suatu Negara dalam upaya mendukung suatu kebijaksanaan politik luar negeri tertentu, untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Pola umum yang biasanya terjadi dalam hubungan diplomasi kebudayaan adalah antara masyarakat suatu Negara tertentu dengan masyarakat Negara lain. Namun demikian, pendapat umum yang dimaksud dalam hal ini adalah untuk mempengaruhi politik pemerintah dari masyarakat bersangkutan. Sasaran utama dari diplomasi kebudayaan adalah pendapat umum, baik dalam level nasional maupun internasional. 

Pentingnya Industri Musik bagi Amerika, dan Hubungan Indonesia dengan Amerika

      Industri musik bagi Amerika sangatlah penting, karena industri musik memegang peranan penting bagi kebudayaan di amerika sejak dulu. Unsur multikultural dalam masyarakat di Amerika memberi sumbangan besar bagi industri musik dengan beragam gaya aliran musiknya, seperti jazz, blues, rock, reggae. Dengan hal itu, industri musik Amerika  adalah alat diplomasi budaya yang mengekspos dan mempromosikan budayanya lewat musik. Selain itu industri Amerika merupakan industri musik terbesar kedua di dunia. Lalu hubungannya dengan Indonesia, Amerika sejak dulu merupakan kiblat bagi banyak negara dalam bidang musik termasuk Indonesia yang menjadikan Amerika sebagai barometer bagi industri musiknya. Industri musik di Indonesia khususny sejak zaman orde baru sangat didominasi dengan gaya musik barat atau dari Amerika.
Sumber :
Hits Maker: Pnduan Menjadi Produsen Rekaman Jempolan, Sendjaja Widjaja, hal: 23
Kemudian mengenai hubungan antara Indonesia dengan Amerika adalah hubungan diplomasi diantara keduanya bersifat fluktuatif dari masa ke masa, hal ini sangat ditentukan pada pemimpin negara pada saat itu. Sejatinya Amerika dan Indonesia adalah dua negara yang sanagt saling membutuhkan.namun, hubungan tersebut mengalami pasang suru. Pada masa orde lama di bawah pimpinan Soekarno Indonesia diarahkan untuk menjadi negara yang anti-Amerika, sperti yang dikutip pada pidato Soekarno “ Amerika disetrika!” saat Amerika dan negara barat lainnya memprotes kebijakan yang dibuat oleh Bung karno. Selain itu Amerika menganggap Presiden soekarno cenderung berpihak pada komunis yang merupakan musuh utama paham liberal yang dianut Amerika. Lalu  banyak hal-hal yang berbau Amerika atau negara barat yang dicap sebagai pendukung Belanda saat itu sangat dilarang masuk ke Indonesia, khususnya dalam hal kebudayaan, sperti musik misalnya, film atau fashion. Saat itu, Soekarno mengeksplorasi kebudayaan asli Indonesia dan menutup diri dari blok barat, termasuk Amerika, hal ini tercermin dalam berbagi peraturan yang berlaku pada saat itu seperti dilarangnya menyanyikan musik rock, dilarangnya menyanyikan lagu berbahasa Inggris, atau pelarangan celata ketat dan rambut panjang pnda saat itu, dsb. Dapat dikatakan hubungan diplomasi Indonesia dengan amerika terbilang buruk pada masa itu, karena Amerika yang menganggap dirinya sebagi negara adidaya mersa ditantang oleh presiden Soekarno, dan merasa diremehkan. Akan tetapi, cukup banyak juga momen-momen dimana hubungan anatara keduanya baik, misalnya Amerika saat menjadi penengah bagi konflik antara Indonesia dengan Belanda pasca kemerdekaan, berbagai perjanjian, perundingan untuk mempertahankan kemerdekaan, dan terakhir Indonesia mendapatkan bantuan dari Amerika atas konflik perebutan Irian Barat antara Indonesia dengan Belanda.
Beda hal lagi saat masa pemerintahan Indonesia bergulir ke masa orde baru di bawah kepemimpinan Jenderal Soeharto. Pada masa itu presiden Soeharto sangat membuka diri kepada Amerika, hal ini terkait Indonesia memiliki banyak konflik yang membutuhkan bantuan dari negara adidaya tersebut. Diantaranya Amerika dianggap sebagai negara yang dapat mengamankan stabilitas ekonomi dan perthanan di Indonesia, selian itu pun Amerika menganggap Soeharto anti-komunis sehingga Indonesia dapat lebih dekat dengan Amerika. Jadi, hubungan Indonesia dengan Amerika terbilang baik. Hal ini tercermin dalam berbagai peristiwa dan keadaan pada saat itu, seperti investor asing barat dan Amerika yang banyak berinvestasi di Indonesia,berbagi industrei asing dalam berbagai bidang industri mulai didirikan, selain itu dalam hal kebudayaan sperti musik ,gaya ber pakaian, film ds. diperbolehkan, bahkan dipopulerkan pada masa orde baru berjalan. Walaupun sempat terjadi beberapa kesenjangan diantara keduanya. Dan berakhirnya masa pemerintahan Soeharto, diakibatkan juga karena nilai tukar dollar terhadap rupiah yang melonjak drastis yang menyebabkan krisis moneter, hal yang juga menjadikan kerapuhan hubungan antara keduanya. Kemudian saat reformasi tiba presiden B.J. Habibie memimpin, hubungan antara Indonesia dengan Amerika surut kembali, karena Indonesia dianggap melanggar Hak Asasi Manusia  pada peristiwa penembakan di Timor Timur. Lalu, saat pemerintahan berganti setahun setelah BJ Habibie memimpin, hubungan diantara Indonesia dengan Amerika kembali terjalin saat Presiden Bush mendeklarasikan untuk memerangi terorisme  yang terjadi setelah dibomnya gedung WTC,  dan terjadinya berbagai bentuk terorisme di Indonesia sperti bom Bali, JW Marriot yang diklaim dilakukan oleh pelaku dari kelompok yang sama, yakni AlQaeda, kerjasama antar Indonesia dengan Amerika terjalin di bawah kepemimpinan Megawati, meskipun Megawati tidak terlalu terbuka pada pihak Amerika. Selanjutnya masa pemerintahan Susilo Bambang  Yudhoyono hubungan Indonesia dengan Amerika terjalin dengan baik diantaranya saat kedua prediden Barrack Obama dengan SBY menandatangani Comprehensive Partnership Agreement(CPA), yaitu perjanjian yang meliputi kerjasama dalam bidang perdagangan, pendidikan, energi, lingkungan, keamanan,demokrasi dan masyarakan sipil. Apalagi, presiden Amerika tersebut memiliki pengalaman pribadinya di Indonesia yang semakin membuat suasana akrab antara kedua negara tersebut. Begitupun dalam kebudayaan, musik, film dan gaya berpakain ala Amerika dan artis-artis Amerika semakin akrab di Indonesia. Hal inipun  yang mencerminkan kedekatan hubungan Indonesia dengan Amerika sampai sekarang ini.

Musik Rock di Indonesia Sempat disebut Unproductive Labour

       Musik Rock di Indonesia pernah dianggap sebagai unproductive labour dalam industri rekaman di Indonesia. Hal ini terjadi pada era 1970-an, dan yang menyebabkan musik rock mendapat sebutan demikian diantaranya adalah, dunia rekaman di indonesia pada masa itu didominasi oleh musik beraliran pop. 



    Industri rekaman pada saat itu menganggap bahwa musik rock dianggap sebagai minoritas dan memiliki peminat yang sedikit, selain itu musik rock yang dinyanyikan di atas panggung kebanyakan adalah lagu-lagu rock musisi barat sehingga kesempatan musik rock lokal  untuk rekaman semakin sempit dan tidak diapresiasi . Industri musik atau perusahaan rekaman pada saat itu telah terlanjur puas dengan musik pop yang sangat laku di pasaran. Produser musik tentu memproduksi rekaman secara komersil, yang artinya musik yang diproduksi haruslah yang sesuai dengan pertimbangan selera pasar atau masyarakat kebanyakan sehingga dapat menghasilkan keuntungan bagi perusahaan rekaman. Sedangkan musik rock pada saat itu enggan diproduksi, karena dianggap tidak dapat menguntungkan perusahaan rekaman di Indonesia. Oleh karena itu, pada masa itu musik rock dianggap sebagai unproductive labour.


Sumber :
Industri Musik Indonesia : Suatu Sejarah, R.M. Mulyadi

Surabaya Punya Cerita, Dahana Adi (hal 48-52)

Senin, 28 Maret 2016

Sifat Sejarah

I. Sejarah Bersifat Diakronis
Diakronis berarti memanjang dalam waktu, seperti yang diungkapkan oleh John Galtung dalam Theory and Method of Sosial Research. Hal yang sering dilupakan dalam pengertian umum bahwa sejarah merupakan suatu proses atau perkembangan. Menurut Galtung Sejarah adalah ilmu yang bersifat diakronis (diachronic) artinya dalam bahasa latin (dia : melalui) dan (chronicus : waktu). Sejarah disebut ilmu yang diakronis karena meneliti gejala dan peristiwa yang berjalan di dalam kurun waktu atau istilahnya memanjang dalam waktu. Jika ada suatu peritiwa yang terjadi maka waktulah yang menjadi rel sebagai tempat berjalannya peristiwa tersebut. Maka penelitian sejarah pun ditentukan dengan arah yang disebut waktu. Dari sinilah kita dapat membedakan ilmu sejarah dan ilmu-ilmu lainnya yang bersifat sinkronis yang berarti meluas dalam ruang, atau tidak terikat dengan waktu. dapat disimpulkan bahwa ilmu sejarah memanjang dalam waktu, sedangkan ilmu lainnya meluas dalam ruang dalam waktu yang terbatas.



II. Sejarah Menuturkan Gejala Tunggal
Sejarah adalah sebuah penceritaan, atau bercerita tentang suatu peristiwa, dan sejarah juga memiliki eksplanasi atau penjelasan. Dalam penceritaaan Sejarah menuturkan gejala tunggal (ideographic, singularizing). Sejarah menuturkan suatu objek atau ide dan mengangkatnya sebagai gejala tunggal

II. Sejarah Berusaha Objektif
Sejarah adalah peristiwa yang terjadi pada masa silam, yang tak mungkin direkonstruksi secara utuh pada waktu yang lain. Artinya dalam penelitian dan historiografi, sumber yang dikumpulkan untuk menghasilkan karya sejarah seringkali ditemukan unsur-unsur subjektif, apalagi jika peristiwa yang menjadi objek kajian sudah lama terjadi. Sebenarnya subjektifitas adalah suatu kebutuhan dalam setiap langkah penelitian dan penulisan sejarah, oleh sebab itu keterlibatan perspektif dalam pembuat dokumen atau sumber dalam interpretasinya tidak dapat dilepaskan, tak terkecuali bagi kita yang meneliti tak akan bisa suatu historiografi murni dari  subjektifitas. Oleh karena itu sejarah hanya dapat berusaha seobjektif mungkin dalam penulisannya, karena subjektifitas ada pada si pembuat sumber dan kita sendiri sebagai penulisnya.
Subjetif dalam penelitian sejarah dapat berupa prasangka atau pertimbangan-pertimbangan tentang bagaimana suatu peristiwa di masa silam dapat terjadi, dan karenanya bisa kemungkinan benar atau berat sebelah. Jadi sejarah hanya bisa berusaha objektif terhadap suatu peristiwa dan dalam menerangkan semua kebenarannya.

Sources :
Kntowijoyo. 2008. Penjelasan Sejarah (Historical Explanation). Yogyakarta : Tiara Wacana.
Gottschalk, Louis. 1975. Mengerti Sejarah. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.

Sejarah dan Psikologi

I. Sejarah dan pengkajiannya menekuni kelakuan manusia, karena pada pengertiannya sejarah merupakan peristiwa yang diakibatkan oleh perilaku manusia, dan tentu saja perilaku manusia dan tindakannya tersebut merupakan hal yang dihasilkan dari suatu kondisi psikologis manusia (pelaku sejarah). Cara manusia itu berkelakuan  sebagian besar diteliti oleh ahli psikologi. maka dari itu , pengetahuan psikologi bagi para sejarawan.
Adapun arti psikologi bagi pengkajian sejarah dibagi menjadi dua cabang :


  1. Ilmu psikologis dapat membantu untuk memahami kelakuan kolektif (kelompok-kelompok) pada masa silam yang menjadi penelitian. dalam kasus ini sering dipergunakan istilah sejarah mentalitas.
  2. Ilmu Psikologi dapat membantu memahami dan menerangkan kelakuan personal (individu).
(Ankersmit, dalam Refleksi Tentang Sejarah/Pendapat-pendapat Modern Tentang Filsafat Sejarah : 1987 : 256)

II. Interpretasi Psikologis Dalam Penelitian Sejarah
Interpretasi Psikologis terhadap sebuah dokumen atau sebuah sumber penulisan sejarah, adalah bagaimana membaca sumber tersebut melalui kacamata si pembuat dokumen, untuk meperoleh titik pandangnya(perspektif). Interpretasi semacam ini berhadapan dengan kehidupan pembuat sumber dokumen tersebut secara mentalitas baik secara individualnya dan generalnya (lingkungan yang membesarkannya).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi psikologis dalam diri seseorang, yaitu :


  • Asal-usul (lingkungan, tempat hidup, pengalaman pribadi).
  • Pembentukan kultural
  • Karakter seseorang
  • Tujuan penulis atau si pembuat sumber
(Nina, dalam Metode Sejarah, 2011 :47-50)